Cari Blog Ini

Memuat...

KARYAKU

Rabu, 10 Maret 2010

selalu mengalah

SELALU MENGALAH

Ternyata kedua kata Selalu dan Mengalah bila digabungkan akan menjadi kata yang memiliki arti filsafat yang sangat berguna bagi kita semua terutama bagi makhluk Tuhan yang ditakdirkan memiliki cipta rasa dan karsa, sehingga membuat manusia selalu ingin lebih dan lebih. Dalam hidup kita ternyata mengalah pada hal-hal yang mungkin membuat emosi kita meledak-ledak lebih baek dan lebih mudah mengatasi masalah yang kita hadapi. Mengalah bukan berarti kita kalah dan bukan juga berarti kita takut tapi dengan mengalah itu sebenarnya membuat kita menjadi lebih dari seorang manusia,kenapa karena kita berhasil mengendalikan nafsu kita.

Senin, 08 Maret 2010

ELING WASPODO BUKAN HANYA SEBUAH NAMA

sumber dari: http://ekoponco.blogdetik.com/2009/10/28/ilmu-hakekat/

Manusia pada dasarnya tidak bisa lepas dari kehidupan bermasyarakat, dimana di dalamnya banyak diwarnai perbuatan baik, saling membantu, pengorbangan, dan saling antara sesama. Seiring dengan itu sifat angkuh, sompong, serakah, dan ego pribadi di dalamnya cukup kental mewarnai, yang akhirnya menjadi suatu perpaduan harmoni kehidupan masyarakat. Pertarungan antara beragam sifat manusia tersebut jadi santapan sehari-hari pada kehidupan kita, baik di keluarga, lingkungan, sampai pada tataran kehidupan yang lebih luas. Itu semua adalah sifat-sifat manusiawi kita yang terbawa sejak lahir, dan sudah menjadi kodrat manusia.

Sebagai salah satu dari penggalan masyarakat, akankah kita mampu turut memberikan goresan pada lukisan alam kehidupan ini? Warna apa yang akan kita goreskan? Apa goresan kita menambah padunya harmoni, atau malah merusaknya? Mari semua pertanyaan itu kita renungkan jawabannya. Jangan terburu-buru menjawab, sebab nanti bisa salah jawab dan tidak sama dengan kenyataan yang ada. Mari kita renungkan lebih dulu, baru nanti kita menjawabnya. Bisa sendiri-sendiri, maupun bersama-sama. Terserah, asal semua jawaban keluar dari nurani dan pikiran jernih kita masing-masing .

Apa yang kita lakukan kemarin, hari ini—termasuk dalam kegiatan P2KP yang sedang kita lakukan—dan yang akan dating. Dalam konteks yang sedang kita bangun ini adalah suatu karya nyata kita, baik diri kita pribadi, teman, tim, orang lain, masyarakat, maupun atasan kita, pada tatanan harmoni alam raya ini. Apapun yang kita lakukan, baik sengaja, karena tugas, atau bahkan karena niatan pribadi, sedikit banyak akan membawa pengaruh pada tatanan masyarakat. Jika itu kita lakukan bersama secara terus-menerus, maka akan menjadi suatu gerakan besar yang akan membawa perubahan. Dari sinilah kita harus mulai waspada. Kenapa kita harus waspada? Mari kita telusuri jalannya dan kita lihat bersama-sama.

Kehidupan masyarakat diciptakan Tuhan dengan segala kebesaran-Nya. Di dalamnya terdapat siklus dan mekanisme yang terus berjalan dan berputar. Juga terdapat berbagai macam tatanan dan harmoni yang berjalan dalam sebuah mekanisme besar. Apapun yang terjadi, semua saling memberi kontribusi terhadap jalannya mekanisme kehidupan ini, meski itu kecil, tetap akan ada pengaruh dan dampaknya. Semua itu akan dirasakan serta berimbas pada semua elemen dan tatanan yang ada didalamnya, secara langsung atau tidak, nyata atau samar, disadari atau tidak, semua akan dapat kita rasakan dan alami bersama. Tak perlu diberi contoh, karena kita paham akan hal itu semua.

Maka, apapun bentuknya, kita harus sadar apa yang kita lakukan akan punya andil dalam proses dan mekanisme di masyarakat. Jika kita sadar akan hal itu, apapun yang akan kita lakukan—seperti P2KP ini—dengan kemauan kita secara pribadi atau bersama-sama, kita harus sadar dan memahami hal ini. Memang kita bukan apa-apa. Kita ini kecil dalam tatanan masyarakat. Tapi sesuatu yang kita lakukan, pasti memberi andil di dalamnya. Kita harus menyadari diri dan kekuatan kita. Lalu, apakah kita akan menentang arus besar dan akankah kita hancur tergilas? Atau kita akan mengalir dan hanyut pada arus ini sampai babak belur, terbentur kesana kemari? Ataukah kita mengikuti arus ini dengan satu prinsip yang berpadu dengan alam, kemudian kita sampai pada tujuan dengan selamat dan terjadi harmoni dalam diri kita dan masyarakat? Mari kita renungkan bersama-sama dan kita pilih dengan sadar, jalan mana yang akan kita ambil. Sadar atau tidak sadar, setiap menit, setiap detik, apa yang kita lakukan dalam kehidupan kita akan berdampak dan berpengaruh pada jalannya tatanan masyarakat. Adalah pilihan kita, mau memaksakan diri, hanyut, atau kita turun memberi harmoni? Itu semua adalah suatu pilihan yang tentunya punya konsekuensi dan jalan yang berbeda-beda. Silahkan kita memilih jalan masing-masing.

Jika kita sadar akan semua itu, maka yang dapat kita lakukan adalah waspada terhadap dinamika kehidupan di sekitar kita. Berhati-hati dalam setiap tindakan agar harmoni tetap terjaga dan kita sampai di tujuan kita. Tapi, itu semua tidak akan mudah kita lakukan karena dalam keseharian kita masing-masing punya peran. Dalam P2KP ini kita punya peran besar, tanggung jawab yang besar, tekanan yang besar, dengan aturan-aturan yang harus kita jalankan bersama. Ini merupakan tantangan bagi kita semua yang terlibat dalam P2KP. Dengan P2KP, kita mau apa dan bagaimana semua sudah jelas, tinggal bagaimana kita melakukannya di masyarakat.

Sekarang kita jadi pusat perhatian. Apapun yang kita lakukan akan dilihat, didengar, dan diikuti oleh masyarakat. Pertanyaannya tinggal bagaimana kita melakukan kewajiban kita agar dapat sejalan dengan tujuan P2KP, sejalan dengan tujuan kita, dan sejalan dengan tujuan di alam raya ini, agar terjadi keterpaduan harmoni. Ternyata benar petuah orang tua dulu, "Sak bejo-bejane wong lali, isih bejo wong kang tansah eling lan waspodo." Kita harus selalu ingat dan waspada terhadap diri dan tindakan kita, termasuk di dalamnya harmoni kehidupan.

Ternyata, memang seharusnya di setiap tindakan dan kegiatan apapun yang kita lakukan dalam kehidupan—termasuk P2KP yang sedang kita lakukan bersama-sama di masyarakat—kita dituntut untuk selalu ingat dan waspada agar harmoni dalam kehidupan ini selalu terjaga, karena kita adalah salah satu bagian didalamnya. Begitu juga dengan kehidupan diri kita pribadi, bukankah juga harus kita jaga keharmonisannya? Benar, kita harus selalu “Iling lan Waspodo” dalam menjalani kehidupan di alam raya ini. Catatan penulis: Ini adalah sebuah renungan pribadi, bukan untuk menggurui atau menasehati. (TF 9 Kauman, KMW XV Jatim; nina)